29 April 2015

Walking After You's Review.

Diposting oleh Mellisa Assa di 12:12:00 PM 0 komentar Link ke posting ini
Saatnya kau melepaskan masa lalu....


Masa lalu akan tetap ada. Kau tidak perlu terlalu lama terjebak di dalamnya.
Pada kisah ini kau akan bertemu An. Perempuan dengan tawa renyah itu sudah lama tak bisa keluar dari masa lalu. Ia menyimpan rindu, yang membuatnya semakin kehilangan tawa setiap waktu. Membuatnya menyalahkan doa-doa yang terbang ke langit. Doa-doa yang lupa kembali padanya.
An tahu, seharusnya ia tinggalkan kisah sedih itu berhari-hari lalu. Namun ia masih saja di tempat yang sama. Bersama impian yang tak bisa ia jalani sendiri, tetapi tak bisa pula ia lepaskan.
Pernahkah kau merasa seperti itu? Tak bisa menyalahkan siapa-siapa, kecuali hatimu yang tak lagi bahagia. Pernahkah kau merasa seperti itu? Saat cinta menyapa kau memilih berpaling karena terlalu takut bertemu luka.
Mungkin, kisah An seperti kisahmu.
Diam-diam, doa yang sama masih kau tunggu.

Judul                          :   Walking After You
Penulis                        :   Windry Ramadhina
Penerbit                      :   Gagas Media
Tebal Buku                :   318 halaman
Tahun Terbit             :   2014
ISBN                           :   979-780-722-X
Genre                         :   Romance
***
An –Anise- harus melepaskan impiannya, membuka tarttoria di daerah suburban, memasak berbagai macam pasta dan masakan Italia yang menjadi keahliannya, demi mewujudkan impian Arlett, saudara kembarnya yang terpaksa harus pergi jauh dari kehidupannya karena keegoisan dirinya. An memutuskan menjadi bagian dari Afternoon Tea, toko kue sepupunya Galuh. Membuatnya bertemu dengan Gen, koki kue yang ceria, penuh canda dan Julian, koki kue utama yang dingin dan sinis. Koki-kelewat-serius, julukan yang diberikan An kepadanya. Dan seperti yang pernah dikatakan oleh Arlett, kalau kue bukanlah keahliannya. Tapi An bersikeras untuk terus berusaha menjadi koki kue yang ahli seperti Arlett. Membuatnya setiap hari harus dijutekin sama Julian tapi tidak membuatnya menyerah. Pada akhirnya, Anise malah jatuh hati pada koki-kelewat-serius yang beraroma apel, sage dan mint tersebut. Kembalinya Jinendra, yang menjadi penyebab pertengkarannya dengan Arlett tidak hanya membuat hubungannya dengan Julian yang mulai berkembang bukan hanya sebagai koki dan asisten koki dilanda kecemburuan, tapi juga memaksa An untuk kembali mengingat masa lalunya. Masa lalu yang sulit dilepaskannya, karena dia belum bisa menerima semua yang sudah terjadi di masa lalu. Galuh dan Julian harus berjuang mengingatkan dan menyadarkan dirinya untuk berdamai dengan masa lalu dan kembali menjemput impian dengan bakatnya dalam memasak masakan Italia.

Karya ketiga Windry yang aku baca. Dan aku belum dibuat bosan dengan cerita yang dikemasnya. Di Montase aku dikenalkan dengan dunia film dokumenter, di Interlude aku dikenalkan dengan dunia musik Jazz dan sekarang aku dibikin ngiler dengan deskripsi berbagai jenis kue dan masakan Italia yang dipaparkan dengan detil. Meski temanya masih sama –romance- tapi dikemas dengan cara yang berbeda. Dan aku sangat salut dengan riset yang sudah dilakukan penulis.

Saat pertama melihat judulnya, aku sempat mengira kalau masa lalu yang menjebak diri An adalah kisah kegagalan cintanya. Tapi ternyata masa lalu itu adalah Arlett, kejadian yang menimpa Arlett, dan impian Arlett yang mati-matian ingin diwujudkan An karena rasa bersalahnya. Sempat tertipu juga dengan karakter An saat membaca halaman pertamanya. Kupikir tokoh An adalah tokoh yang pemurung, tapi ternyata sebaliknya. An selalu berhasil membuatku tertawa ketika dia menggoda Julian habis-habisan sampai laki-laki itu tersipu. Sejak awal aku juga dibuat penasaran dengan apa yang terjadi pada An dan Arlett, dan dimana Arlett berada. Mendekati pertengahan cerita, rasa penasaranku terjawab dan sekaligus membuat hatiku ikutan ngilu. Seolah aku juga merasakan perih hati An, dan mengerti kenapa dia sulit berdamai dengan masa lalunya. Tapi selalu ada pelangi sehabis hujan. Diantara kepingan masa lalu yang sulit An lupakan, ada Julian yang mengisi hatinya. Selalu suka dengan dua karakter utama yang bertolak belakang sifatnya. Karakter Julian yang dingin, serius, jutek, bisa dibikin mati kutu atau tersipu oleh An yang ramah tapi terkadang jail dan suka menggoda.

Selain kisah Anise, ada pula kisah Ayu yang diselipkan Windry dalam cerita. Perempuan yang dijuluki perempuan pembawa hujan, yang setiap kedatangannya di Afternoon Tea setiap hari selasa sore selalu diikuti dengan hujan. Yang selalu duduk di pojok Afternoon Tea dengan agenda berwarna merah di tangannya, yang selalu memesan soufflé tapi tidak pernah dimakan olehnya. Soufflé hanya dibiarkan sampai dingin dan mengempis, sementara dirinya hanya duduk diam dan memandang hujan dengan sendu. Bukan hanya An yang penasaran, kenapa Ayu selalu seperti itu, tapi aku juga. Dan berkat An pula rasa penasaranku terjawab. An dan Ayu sama-sama belum bisa berdamai dengan masa lalu mereka.

Selain gaya bahasa, karakter dan tema cerita, ada beberapa kutipan yang aku favoritkan di novel ini. Yaitu:
-     Barangkali, itulah sebabnya mengapa hujan akrab dengan kekecewaan, frustasi, kesendirian dan airmata. Hal 24
-     Namun tidak ada yang bisa kembali ke masa lalu, karenanya kami terperangkap di sini, di Afternoon Tea, dalam hujan bersama penyesalan. Hal 228
-     Pelangi adalah janji alam bahwa masa buruk telah berlalu dan masa depan akan baik-baik saja. Hal 274
-     Itu masa lalu. Jangan terjebak di dalamnya terlalu lama. Hal 275
-     Semua akan baik-baik saja. Hujan pasti berhenti. Setelahnya, kau akan melihat pelangi. Hal 281
-     Sudah saatnya kau melepaskan masa lalu. Hal 282
-     Untuk melepaskan masa lalu, yang harus kulakukan bukan melupakannya, melainkan menerimanya. Dengan menerima, aku punya kesempatan untuk belajar memaafkan diri sendiri. Hal 293
-     Manusia cenderung mencari sosok pasangan yang membuat dia nyaman. Hal 295

Yang kurang di novel ini, akhir dari romance antara An dan Julian. Kurang panjang, ingin yang lebih dengan kisah mereka berdua di akhir cerita. But I really love the end scene between An and Julian.

Nah, yang ingin berdamai atau melepas masa lalu, silahkan baca novel ini. Yang sudah berdamai dengan masa lalu pun, nggak ada salahnya untuk membaca novel ini. Dan silahkan larut dalam tawa, haru dan tangis bersama An.


4 of a 5 stars.

All I (N)ever Wanted's Review

Diposting oleh Mellisa Assa di 9:23:00 AM 4 komentar Link ke posting ini
“Di ruang kepala sekolah,” mata besar Sandy berbinar-binar. Dia memberi jeda untuk membuat efek dramatis. “Ada anak baru yang lagi ngamuk!”
“Hah?” Aku menarik Sandy mendekat ke arahku. Ini gossip kelas atas!
“Iya, beneran. Waktu aku lewat ruang Kepala Sekolah, suaranya kedengeran jelas! Dan tahu, nggak sih? Kata bapak di ruang administrasi, anak baru itu pindahan dari SMA Saint Francis!”
Sebentar. Anak baru pindahan dari Saint Francis yang berani berteriak-teriak pada orang yang lebih tua? Sepertinya, di dunia ini hanya ada satu jenis orang yang seperti itu…

Tidak naik kelas, tinggal di asrama yang seperti penjara, terlibat cinta segitiga, dan harus bersaing dengan sahabatnya di lomba tari. Trix pikir hidupnya tidak bisa lebih rumit lagi dari ini. Namun kedatangan Jo, sepupunya, membuat hidup Trix jadi lebih kacau berpuluh kali lipat. Trix pontang-panting membantu orangtua Jo untuk mengawasi cewek itu agar tidak membuat masalah dan berbaikan dengan ibu tirinya. Yang Trix inginkan hanyalah menjalani masa SMA dengan tenang dan membuat hidupnya lebih berharga. Tapi ketika Trix mulai mengambil langkah, keinginan sederhananya malah berubah menjadi mimpi buruk yang membuatnya kehilangan banyak hal.

Judul                    :   All I (N)ever Wanted
Penulis                  :   Maida Ivana
Penerbit                :   Ice Cube
Penyunting           :   Katrine Gabby Kusuma
Tebal Buku          :   280 halaman
ISBN                     :   978-979-91-0842-5
Kategori               :   Young Adult Reality Novel
(Buntelan BBI)

***

Trix merasa hari-harinya di SMA Fiore seperti neraka. Harus tinggal kelas karena nilai-nilainya yang jelek, mengikuti berbagai les pelajaran tambahan, PR yang tak kunjung habis, dan nilai yang masih saja tetap jelek meski sudah mati-matian belajar. Yang membuat dia masih bertahan di Fiore adalah kedua sahabatnya Ramona dan Bastian yang sudah duduk di kelas 11 dan kegiatan ekstra kurikuler serta keaktifannya di OSIS. Hari-hari Trix semakin ‘berwarna’ setelah kepindahan Jo, sepupunya yang bermulut kasar, jutek, berantakan, dikeluarkan dari sekolah lama karena mem-bully teman sekelasnya dan sangat membenci mama tirinya yang tidak lain adalah tantenya Trix. Dan Trix pun terpaksa harus mendekati Jo atas permintaan tantenya agar Jo tidak membencinya lagi. Persahabatannya dengan Ramona pun hancur karena kompetisi tari nasional. Dan lagi-lagi Trix harus menghadapi masalah. Tapi perlahan Jo mulai bisa membuka diri dan Trix jadi bisa mengerti mengapa Jo bersikap seperti itu. Dan atas bantuan Trix juga, Jo bisa membersihkan namanya di bekas sekolah lamanya. Setiap masalah yang timbul pun mereka hadapi bersama-sama dan saling tolong-menolong. Hingga kembali muncul kesalahpahaman yang membuat Jo kembali berpikir ulang untuk tetap bertahan di Fiore atau pindah dari sekolah berasrama tersebut.

Aku sangat-sangat merekomendasikan novel ini untuk para remaja. Banyak nilai positif yang bisa diambil dari novel ini. Bagaimana menjaga jalinan persahabatan dengan baik, menolong dengan tulus, bersikap sportif, menyelesaikan masalah dengan kepala dingin, dan berani untuk meminta maaf atas semua kesalahan yang sudah diperbuat. Karakter-karakter yang diciptakan bukanlah karakter yang penuh dengan kesempurnaan, yang sudah cantik, pintar dan punya pacar anak basket. Seperti karakter Trix yang punya banyak teman, mama yang baik dan menyayanginya, aktif di OSIS, jago dalam hal menari, tapi punya kelemahan dalam hal pelajaran yang menyebabkan dia harus tinggal kelas. Sebaliknya karakter Jo, punya fisik yang cantik, pintar, jago renang, tapi punya masalah dengan temperamennya yang buruk. Tapi semua bisa menyatu dan saling mengisi.

Alur ceritanya juga enak dan tidak membingungkan. Nggak bikin sakit kepala atau mules karena nggak ada adegan romantis yang belum pantas untuk anak remaja atau kalimat-kalimat kasar yang keluar dari kelompok tukang bully. Untuk novel debut cukup bagus juga dan gaya bahasanya yang ringan dan mengalir serta jauh dari kesan kaku. Meski masih ada kesalahan penulisan, tapi tidak sampai mengganggu. Yang kurang mungkin gambaran sekolah berasramanya, karena Fiore tidak seketat sekolah berasrama pada umumnya.


3 of a 5 stars.
 

Mells Book's Shelves © 2010 Web Design by Ipietoon Blogger Template and Home Design and Decor