29 Januari 2015

(Book's Review) Touche by Windhy Puspitadewi

Diposting oleh Mellisa Assa di 1:31:00 PM 0 komentar Link ke posting ini


Judul : Touche
Penulis : Windhy Puspitadewi
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal : 208 halaman
Kategori : Teenlit


Sinopsis :
Selain kemampuan aneh yang bisa merasakan apa yang dirasakan orang lain lewat sentuhan, Riska memiliki kehidupan normal layaknya siswa SMA biasa. Tapi semua berubah sejak kedatangan Pak Yunus, guru pengganti, dan perkenalannya dengan Indra yang dingin dan Dani si juara kelas.
Riska kemudian diberi tahu bahwa dirinya adalah touché alias orang yang memiliki kemampuan melalui sentuhan, seperti halnya Indra, Dani dan Pak Yunus sendiri. Seakan itu belum cukup mengejutkan, Pak Yunus diculik! Sebuah puisi kuno diduga merupakan kunci untuk menemukan keberadaan Pak Yunus.
Dengan segala kemampuan mereka, Riska, Dani dan Indra pun berusaha memecahkan kode dalam puisi kuno tersebut dan menyelamatkan guru mereka.

Review :
Sejak kecil, baik Riska maupun mamanya sudah menyadari kemampuan yang dimiliki olehnya. Hanya dengan satu sentuhan, Riska bisa merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain. Dan karena kemampuan itu pula, Riska selalu mengenakan sarung tangan kemana pun dia bepergian. Lewat Pak Yunus sang guru pengganti yang datang dari luar negeri, Riska jadi tahu kemampuan apa yang dimiliki olehnya. Dia termasuk satu dari banyaknya touché –dibaca tushe- yang ada di seluruh dunia. Riska tidak sendiri, karena Indra dan Dani, teman satu sekolahannya juga memiliki kemampuan yang sama. Bedanya, Indra adalah seorang mind reader yang dapat membaca pikiran orang lain lewat sentuhan, dan Dani adalah data absorber yang dapat menyerap seluruh isi buku lewat sentuhan. Belum pulih dari kekagetan atas kemampuan yang mereka miliki, mereka bertiga juga dikagetkan dengan info dari Pak Yunus, bahwa mereka bertiga  menjadi incaran orang-orang berbahaya. Hilangnya Pak Yunus membuat mereka bertiga bekerjasama memecahkan petunjuk yang ditinggalkan penculik dalam bentuk sebuah puisi kuno. Kode-kode yang mereka pecahkan, membawa mereka dalam bahaya dan mengetahui siapa otak dibalik penculikan dan tujuan si penculik yang sesungguhnya.
***
Sekali lagi aku menemukan bacaan berlabel teenlit tapi berkualitas. Berkualitas yang aku maksud disini, karena tema cerita yang ber-‘isi’, mengajak pembacanya untuk mendalami ilmu pengetahuan dan sejarah, dan memberi info mengenai orang-orang penting yang pernah berpengaruh atau menghasilkan sesuatu di abad silam. Touché tidak menjual cinta monyet atau aksi bully yang pasti sering nongol di novel-novel yang ditujukan untuk remaja. Penulis begitu meyakinkan menyajikan ceritanya. Dan aku salut dengan cara penulis menyajikan cerita yang ada unsur science, action, persahabatan, dan sedikit romance hanya dalam 208 halaman saja.
Tapi memang aku harus bilang kalau cara yang diambil Pak Yunus terlalu lebay. Dan ada sedikit contoh yang tidak baik juga sih. Seperti Dani yang bisa menjadi juara kelas karena mempergunakan kemampuan touché-nya. Atau saat Indra yang kesulitan dalam ulangan sejarah dan menyontek punya Dani dengan kemampuannya sebagai mind reader. Bisa dibayangkan kalau kemampuan seperti itu benar-benar ada di dunia nyata. Aku juga menemukan beberapa typo saat membaca novel ini, dan yang paling sering adalah tidak adanya tanda kutip di akhir dialog, tapi itu tidak sampai mengganggu.
Keseluruhannya aku suka ceritanya, karena sudah pasti tidak membuat aku mati bosan selama membaca. Walau pun mendekati ending aku mulai bisa menebak ceritanya. Tapi aku tetap mengapresiasi penulis yang pastinya sudah melakukan riset yang mendalam saat menulis novel ini. Para remaja yang bosan dengan tema cinta monyet atau bully, novel ini sangat direkomendasikan.

3 of a 5 stars.


28 Januari 2015

(Book's Review) Moon In The Spring by Hyun Go Wun

Diposting oleh Mellisa Assa di 12:07:00 PM 0 komentar Link ke posting ini

Penulis : Hyun Go Wun
Penerjemah : Sitta Hapsari
Penerbit : Haru
ISBN : 978-602-7742-39-0
Jumlah Halaman : 405 halaman
Kategori : Romance

Blurb :
Di malam bulan purnama, seorang dewi terjebak bersama seorang pria berhati dingin dan licik di permukaan bumi. Dewi langit, Pria Bumi, lalu Malaikat Kematian…

Apakah wanita itu benar-benar tunanganku?
Pria itu bernama Kang Min-Hyuk, pria berhati dingin dan licik. Ia tidak tampak terkejut ketika tunangannya bangkit dari kematian. Ia tidak memiliki perasaan apa pun kepada wanita itu. Akan tetapi sesudah kejadian itu, wanita itu terlihat seperti wanita lain. Dan wanita itu tidak pernah bisa hilang dari pikirannya.

Apakah pria itu akan berhasil mengetahui identitasku yang sebenarnya?
Ji-Wan melanggar peraturan langit dan turun ke bumi untuk menggantikan posisi seorang wanita yang meninggal. Di sana, ia bertemu dengan Min-Hyuk, tunangan wanita yang ia gantikan. Sejak bertemu dengannya, Ji-Wan tahu bahwa pria itu adalah orang yang tidak mudah untuk dihadapi. Walaupun begitu, Ji-Wan berniat untuk bisa terus bertahan di dunia manusia … meski ia merasa lelah.
***
Dal-He tadinya adalah anak manusia bisa, yang kemudian ditolong oleh Kaisar Langit saat dia dan kakaknya Hae-Song akan dimangsa seekor harimau. Mereka menjadi dewa dan dewi, tapi untuk menyempurnakan proses mereka menjadi dewa dan dewi seutuhnya mereka harus melalui beberapa kali proses reinkarnasi. Bukannya reinkarnasi, Dal-He malah memasuki tubuh Ji-Wan, seorang gadis yang hidupnya suram karena tidak pernah merasakan kasih sayang bahkan dari tunangannya sendiri, Kang Min Hyuk, yang berniat menikah dengannya agar proses merger perusahaan bisa berjalan lancer. Lewat buku diari Ji-Wan, Dal-He mempelajari keseharian Ji-Wan dan orang-orang yang berada disekitarnya. Tujuannya satu, agar Kang Min Hyuk yang begitu dingin dan tak berperasaan bisa berubah kembali menjadi manusia seutuhnya yang mengenal rasa kasih. Dibantu dengan Malaikat Kematian -yang mencabut nyawa Ji-Wan asli- Dal-He menjalani kehidupan Ji-Wan dengan caranya. Ji-Wan yang dikenal setelah bangkit dari kematiannya adalah Ji-Wan yang pemberani, lebih kuat dan tidak segan-segan mengungkapkan perasaannya yang sesungguhnya. Bukan hanya merubah hubungan dengan ibu dan adik tirinya, tapi diri ji-Wan yang baru juga mampu merubah sifat seorang Kang Min Hyuk. Saat mereka berdua sudah saling jatuh cinta dan merasa tidak sanggup untuk berpisah, Ji-Wan mendapat perintah dari Kaisar Langit untuk segera kembali ke langit.
Khas drama banget. Karakter Ji-Wan dan Min-Hyuk mengingatkan aku pada karakter Ah Mo Ne dan Cha Jae Won dalam drama Hotel King. Yang satunya ceplas-ceplos, sementara yang satunya lagi dingin luar biasa karena masa lalu yang kelam. Jalan ceritanya juga berasa lagi nonton drama Korea. Rapat-rapat dan konflik perusahaan diselipkan dalam scene. Dan setelah membaca ceritanya, menurutku tokoh Kang Min-Hyuk tidak selicik yang aku bayangkan. Lebih tepat kalau Kang Min Hyuk digambarkan sebagai seseorang yang ambisius.
Beda dengan novel Asia terjemahan lain yang pernah kubaca, novel ini langsung masuk pada inti cerita dan tidak ada deskripsi yang terlalu panjang yang gampang membuatku bosan. Jalan ceritanya juga menarik karena membuatku penasaran dengan bagaimana akhir cerita antara Ji-Wan dan Min-Hyuk saat mereka sudah saling jatuh cinta, tapi Ji-Wan mau tidak mau harus kembali ke langit. Hanya saja di awal, aku belum langsung merasakan chemistry antara Ji-Wan dan Min-Hyuk, karena proses jatuh cinta Min-Hyuk kepada Ji-Wan yang terlalu cepat. Tapi di pertengahan, Kang Min-Hyuk berhasil menarik perhatianku. Tokoh Ji-Wan sendiri dari awal sudah menarik perhatianku karena aku selalu menyukai karakter perempuan yang berani dan kuat. Caranya membalas kata-kata Min-Hyuk juga tidak jarang membuatku tertawa. Munculnya orang ketiga juga makin menarik karena Min-Hyuk yang merasa cemburu.
Dari penulisan sih aku tidak banyak menemukan typo, hanya dua saja tapi itu pun tidak mengganggu, jadi selama membaca novel ini mataku nyaman. Selain minim typo, font-nya juga besar dan tidak bikin sakit mata. Terjemahannya juga enak, tidak kaku jadi tidak bosan membaca rangkaian kalimat dari penulis dan aku sebagai pembaca juga bisa menangkap pesan-pesan yang disampaikan penulis lewat novel ini. Dan meski mungkin ditujukan pada pembaca dewasa, tapi menurutku novel ini bisa dibaca semua kalangan karena tidak ada adegan ‘dewasa’ yang digambarkan secara gamblang.
3 of a 5 stars J


15 Januari 2015

(Book's Review) The Mediator : Darkest Hour by Meg Cabot

Diposting oleh Mellisa Assa di 11:07:00 AM 0 komentar Link ke posting ini


Judul : The Mediator : Darkest Hour
Penulis : Meg Cabot
Penerjemah : Monica Dwi Chresnayani
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama
ISBN : 978-979-22-6827-0
Jumlah Halaman : 288 Halaman
Genre : Teenlit


SINOPSIS :
Ketika dibangunkan di tengah malam buta oleh hantu Maria de Silva dari abad ke-sembilan belas, Suze tahu itu bukan kunjungan biasa –apalagi karena ada pisau ditempelkan ke lehernya. Semasa hidupnya dulu, Maria adalah tunangan Jesse- yang tewas dibunuh 150 tahun silam. Jesse yang dicintai Suze. Jesse si hantu tampan.
Maria mengancam Suze : pembangunan dek di halaman belakang rumah keluarga Suze harus dihentikan. Suze tahu benar apa –atau lebih tepatnya siapa- yang tidak ingin ditemukan oleh Maria. Tapi apakah bila ia memecahkan misteri pembunuhan Jesse, Suze akan kehilangan lelaki itu selamanya? Apakah Suze sudah siap menerima risiko kehilangan hantu cowok yang telah merebut hatinya?

***

Ahhh selalu suka dengan tulisan Meg Cabot. Tadinya aku tidak mengira kalau The Mediator ini berseri, dan bahkan aku langsung melompati membaca seri ke-4. Tapi aku tetap menikmati jalan ceritanya, karena kisah yang diangkat di novel ini berbeda. Dan Suze juga sedikit menceritakan orang-orang yang berada di sekitarnya. Hanya saja yah, tokoh Jesse memang belum berhasil memikatku karena aku belum mengenal dia dari awal.

Novel ini cukup seru juga. Dan aku menikmati sekali part dimana Suze berkonfrontasi dengan Maria de Silva, bahkan sampai menghajarnya. Aneh memang, manusia yang bisa bersentuhan bahkan adu fisik dengan hantu, tapi yah namanya juga cerita fiksi kan? Dan aku juga suka karena tokoh Suze digambarkan sebagai karakter yang selera fashionnya oke dan berani.

Terjemahannya juga enak dan tidak kaku, jadi aku sangat menikmati novel ini. Bahkan setelah membaca novel ini, aku jadi penasaran ingin memburu seri The Mediator lainnya.

3 of a 5 star.

14 Januari 2015

(Book's Review) Cinta Paket Hemat by Retni SB

Diposting oleh Mellisa Assa di 11:40:00 AM 0 komentar Link ke posting ini

Judul : Cinta Paket Hemat
Penulis : Retni SB
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama
ISBN : 978-979-22-98352-5
Jumlah Halaman : 280 halaman
Genre : Metropop, Romance

BLURB :

Wajah lumayan, karir ada, dukungan keluarga tak pernah kurang, punya teman se-geng yang asyik, bisa ketawa kapan saja, dan … statusnya bukan jomblo. Itulah Pipit. Semua itu cukup jadi modalnya untuk bahagia, kan? Memang.

Tapi, sejak dia mendadak ketiban rezeki jadi ibu bagi Lio, bocah laki-laki umur lima tahun, hidupnya berubah 180 derajat! Putus dengan pacar, tenaga dan emosi terkuras ke sana-sini, pekerjaan kacau balau –bahkan sampe dipecat- teman-teman menjauh ….Aduh! semua berantakan. Apa yang bisa membuat hidupnya kembali cerah seperti dulu?

Dokter yang memeriksanya menyarankan supaya dia punya pacar. Ha! Mana ada sih cowok yang mau menerima dia lengkap satu paket dengan Lio?

Bahkan Pak sapta, yang dewasa dan mapan, yang mampu melimpahinya dengan perhatian dan hadiah serbasempurna, tak ingin keasyikannya dengan Pipit ditengahi Lio…

Kebalikan dari Aries. Ah, cowok sinting itu malah mampu membuat Lio menjadi tenang. Tapi sebelnya, cowok itu hobi benar adu mulut … mulutnya tak pernah berhenti menyela dan berkomentar.
***
Tidak pernah terlintas di benak Pipit kalau dia harus kehilangan kakak dan kakak iparnya sekaligus. Lia dan Fadil, yang berniat menghabiskan liburan singkat di Jogja malah harus pergi selama-lamanya akibat gempa yang meruntuhkan losmen tempat mereka menginap. Di tengah rasa sedih yang melanda Pipit, pikirannya malah fokus pada warisan tanpa wasiat yang ditinggalkan Lia dan Fadil. Lio, anak mereka, ponakannya, bocah berusia 5 tahun yang mengidap autisme infantil. Hari-hari Pipit berubah. Pekerjaan terbengkalai karena perhatiannya yang juga tercurah pada Lio. Belum lagi rasa frustasi saat melihat kemunduran yang terjadi pada Lio. Untung ada Aries, adik Fadil yang bersedia ikut mengurus Lio. Meski awalnya adu mulut selalu menghiasi hari-hari mereka, tapi pada akhirnya Pipit mulai melihat Aries dari sudut pandang berbeda. Cara Aries melindungi mereka –dia dan Lio- dan merawat serta memerlakukan Lio layaknya anak sendiri, menumbuhkan bibit-bibit cinta di hati Pipit. Yang ingin Aries tahu, apakah itu benar-benar rasa cinta, atau hanya karena Pipit merasa terlindungi saja dan salah mengartikan kalau itu adalah rasa cinta.

Selalu suka dengan gaya menulis mbak Retni yang enak, mengalir, tidak kaku dan membosankan. Keindahan Indonesia yang belum pernah diketahui olehku, selalu diselipkan dalam novel-novel mbak Retni. Kali ini walau pun hanya singkat, mbak Retni mengajak kita untuk menelusuri gua di gunung Kidul. Karakter yang dibawa mbak Retni –masih- karakter yang tidak terkontaminasi dunia hiburan malam dan full branded from head to toe. Konflik yang dibawa, khas kehidupan sehari-hari.

Di pembuka novel ini, aku masih diliputi haru saat Pipit tiba-tiba kehilangan dua orang yang disayang sekaligus. Tapi selanjutnya, kita akan mulai terbawa dengan monolog Pipit yang terkadang koplak dan bikin ngakak. Belum lagi kalau dia mulai terlibat adu mulut dengan Aries dan mengeluarkan julukan-julukan untuk Aries. Diceritakan dengan 2 PoV berbeda, dari Pipit dan Aries. Walau didominasi pikiran Pipit, tapi setidaknya nggak merasa penasaran dengan isi kepala Aries. Dan lewat novel ini, aku menarik kesimpulan kalau pesan moral yang ingin disampaikan penulis adalah apabila kita mengerjakan sesuatu dengan ikhlas, akhirnya akan dimudahkan juga oleh Allah. Dan manusia harus jatuh berkali-kali dulu sebelum bisa berjalan dengan tegak (konflik Pipit dalam mengasuh Lio).

Tapi aku juga agak terganggu dengan karakter Pipit yang terlalu labil, dan suasana hatinya yang gampang berubah hanya karena hal-hal kecil. Terlalu cepat menyimpulkan keadaan dan terlalu mengasihani diri. Yah memang tidak gampang kehilangan kakak dan iparnya sekaligus, ditambah warisan yang mereka tinggalkan. Tapi Pipit terlalu berkubang dengan dukanya sendiri, tanpa sadar kalau sebenarnya beban yang dipikul Aries justru lebih berat. Dan bukan dijauhi teman sebenarnya, tapi dia sendiri yang menjauh karena tidak menerima kritik dan saran yang disampaikan teman-temannya. Cerita juga jadi terfokus pada dunia Pipit dan Lio yang sebenarnya jadi konflik utama kehidupan Pipit dan Aries hanya digambarkan sambil lalu saja. Dan tokoh Pak Sapta sendiri mantan atasan Pipit dan kemudian menjalin hubungan dengan Pipit. Umurnya belum juga memasuki kepala 4 tapi karena terus dilabeli dengan panggilan ‘pak’ sekalipun mereka sudah pacaran, membuat imajinasiku jadi rusak karena yang ada dalam imajinasiku kalau Pak Sapta ini memang sudah tua dan pantas dipanggil Om. Dan disayangkan juga, di usianya yang seharusnya bisa menjadikan dia lebih bijaksana, justru dia tidak bisa menerima kehadiran Lio dan seolah-olah berusaha menjauhkan Pipit dari Lio.

Dari segi penulisan, cukup rapih juga. Walau ada beberapa typo, tapi tidak sampai mengganggu. Dibandingkan novel mbak Retni lainnya yang sudah pernah kubaca, novel ini tidak terlalu meninggalkan kesan yang mendalam. Tapi aku menikmati cara mbak Retni bercerita lewat dialog-dialog dalam novel ini.


3 of a 5 star.

12 Januari 2015

(Book's Review) Bonus Track by Koshigaya Osamu

Diposting oleh Mellisa Assa di 2:56:00 PM 0 komentar Link ke posting ini

Judul : Bonus Track
Penulis : Koshigaya Osamu
Penerjemah : Andry Setiawan
Penerbit : Haru
ISBN : 978-602-7742-36-9
Jumlah Halaman : 380 halaman
Kategori : Fiksi, Terjemahan Jepang, Persahabatan

BLURB :
Aku sendiri pun terkejut. Aku tidak pernah berpikir akan menjadi hantu dan bergentayangan.

Kusano Tetsuya bekerja di sebuah restoran hamburger besar di kotanya. Suatu malam, saat ia pulang kerja sambil mengendarai mobilnya, ia menjadi saksi tabrak lari. Sebuah mobil sport hitam melaju dengan kencang, meninggalkan seorang pemuda bertubuh kecil tergeletak di jalanan di tengah hujan.
Kusano mencoba untuk menolong pemuda itu, bahkan sampai memberikan napas buatan. Namun semua sudah terlambat. Semalam suntuk ia harus memberikan pernyataan di kantor polisi. Gara-gara itu, Kusano demam tinggi dan bahkan berhalusinasi. Pemuda korban tabrak lari itu muncul di kamarnya, tidur-tiduran di atas sofanya, dan bahkan berbuat usil!
Tapi, apa itu benar-benar hanya halusinasi? Halusinasi itu sendiri sih mengaku kalau ia adalah hantu.

Kadang bonus track itu sendiri masih lebih baik dibandingkan dengan keseluruhan album.
***
Tidak pernah terlintas dalam pikiran Kusano kalau dia akan menjalin pertemanan dengan Ryota. Menjadi saksi satu-satunya dalam kasus tabrak lari yang menewaskan Ryota, membuat Kusano jadi diikuti Ryota. Ryota sendiri mengikuti Kusano, karena hanya Kusano seorang yang bisa mendengar suaranya. Saat akhirnya Kusano bisa melihat arwah Ryota, bukannya lari ketakutan, tapi Kusano berlaku santai karena dianggapnya arwah Ryota hanya halusinasinya saja. Kusano baru sadar kalau Ryota bukan hanya halusinasinya saja, saat Minami Hiroto, staf di restoran tempatnya bekerja yang memiliki kemampuan melihat makhluk halus memastikan kalau dia juga bisa melihat Ryota. Perlahan keseharian Kusano yang didominasi dengan jam kerja mulai berubah, berkat Ryota. Ryota sendiri yang awalnya berpikir kalau nasibnya sungguh sial, pada akhirnya merasa bersyukur, setelah tahu kalau masih banyak keluarga dan sahabatnya yang merasa sedih dengan kematiannya. Dengan dibantu Kusano dan Minami, Ryota berusaha untuk mencari pelaku tabrak lari, agar dia bisa pergi dengan tenang.

Pertemanan yang manis, walau pun singkat. Ryota benar-benar meninggalkan kesan yang mendalam untukku. Harus bersabar membaca novel ini, karena di awal kita harus mengikuti dulu deskripsi panjang kehidupan Kusano dan Ryota. Tujuannya mungkin supaya kita para pembacanya mengenal dengan dekat terlebih dahulu tokoh Kusano dan Ryota. Dan jujur saja deskripsi bagian Kusano sempat membuatku bosan karena menggunakan sudut pandang orang ketiga. Sementara aku bisa menikmati PoV dari Ryota yang menggunakan sudut pandang orang pertama. Saat masuk dibagian dimana Kusano bisa melihat Ryota, ceritanya mulai enak. Aku menikmati dialog antara Kusano dan Ryota yang sering adu mulut. Seolah mereka sudah saling mengenal sejak lama. Terjemahannya yang tidak kaku bikin aku tidak mudah bosan. Sempat merinding juga saat Minami mulai menceritakan pengalamannya yang bisa melihat hantu. Dan saat mulai merasakan chemistry antara Ryota dan Kusano, aku pun jadi tidak ingin kehilangan Ryota, dan turut menyesal kenapa Ryota harus meninggal.

Melihat judulnya, aku sempat mengira kalau novel ini akan berhubungan dengan musik. Tapi ternyata tidak. Memang ada beberapa part yang membahas soal musik, tapi musik bukanlah inti cerita. Mendekati ending, baru kita akan mengerti mengapa novel ini diberi judul Bonus Track. Walau pun tidak ada unsur romance, tapi novel ini menyentuhku juga karena kisah pertemanan yang tulus yang dibawa penulis, dan dialog-dialog yang tak jarang membuatku tertawa. Juga pesan moral yang terselip dari cerita ini.
Karena bukan ahli EYD jadi aku tidak akan mengomentari bagian itu. Tapi yang jelas aku jarang menemukan kesalahan huruf. Mungkin aku terlalu hanyut dengan cerita hingga tidak memerhatikan typo, atau memang novel ini minim typo. Yang jelas aku memang hanya menemukan satu kesalahan pengetikan huruf –yang aku lupa di halaman mana-.
Bonus Track menurutku bisa diterima di berbagai kalangan. Agar kita yang masih diberi umur yang panjang oleh Tuhan bisa belajar dari Ryota, bagaimana mensyukuri hidup dan memanfaatkan waktu dengan baik selama kita hidup.

3 of a 5 star.


10 Januari 2015

(Book's Review) 57 Detik by Ken Terate

Diposting oleh Mellisa Assa di 2:20:00 PM 0 komentar Link ke posting ini

Judul : 57 Detik
Penulis : Ken Terate
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
ISBN : 978-979-22-4632-2
Jumlah Halaman : 232 halaman
Genre : Teenage, Friendship

BLURB :
JOGJA, KORAN REMAJA-- Aji, Ayomi, dan Nisa adalah remaja "biasa", kayak kita-kita gitu deh. Mereka mengaku kadang bosan dengan hari-hari mereka. Sekali-sekali mereka pengin juga mengalami kejadian seru. Tapi tentu saja bukan seru yang menyengsarakan seperti GEMPA. Namun, itulah yang terjadi! Gempa itu tiba-tiba datang dan mengacaukan semuanya. Cuma 57 detik, tapi akibatnya begitu mengerikan. Petualangan luar biasa terpaksa mereka jalani. Apa aja cerita mereka? Bagaimana mereka bertahan? Apa ada kejadian lucu dalam tragedi ini? Berikut wawancara dengan mereka.
Tanya : Waktu gempa rasanya seperti apa?
Aji : Seperti ditabrak buldoser.
Ayomi : Seperti naik roller coaster...tanpa sabuk pengaman
Nisa : (lirih) seperti sulap.

Tanya : Apa yang membuat kamu paling sedih?
Aji : Bencana itu rasanya nggak adil, sepertinya selalu menimpa orang yang sudah susah.
Ayomi : Aku nggak bisa menari lagi, padahal menari adalah hidupku.
Nisa : (lirih juga) sahabatku Aisyah... dia... (tidak berhasil melanjutkan)

Tanya : Apa hikmah yang bisa kamu dapatkan?
Aji : Akhirnya gue tau apa yang gue inginkan, setelah gue capek memenuhi harapan orang lain.
Ayomi : Dapet pacar baru.
Nisa : Aku sadae aku sangat sayang pada keluargaku, meski mereka sama sekali nggak keren.

Wow! Petualangan mereka benar-benar seru dan sangat menarik untuk disimak. Misalnya, Nisa yang harus bertahan di puing-puing tanpa makanan lebih dari sehari semalam, lalu Aji yang jadi relawan dadakan, dan Ayomi yang merasa dunianya hilang dalam sekejap gara-gara isu tsunami fiktif.

Oh iya, ada cerita-cerita lucu dan romantisnya juga lho. Dapatkan kisah lengkap mereka di buku ini, sekarang juga!
***
Tadinya Aji, Ayomi dan Nisa cuma tiga remaja biasa. Aji, anak Jakarta, mahasiswa semester 4 Fakultas kedokteran Umum yang memilih 'kabur' sejenak selama 2 hari di Jogjakarta karena bosan dengan rutinitas kampusnya. Ayomi, anak anggota DPRD yang merasa tidak memiliki kemampuan apa pun selain menari, dan kekurangan kasih sayang orangtua yang super sibuk. Nisa, yang selalu mengeluhkan keluarganya, dan menjauh dari sahabat sejak kecilnya Aisyah, karena Aisyah yang mulai mendalami agama, dan terlalu menceramahi dirinya.

Tapi gempa yang mengguncang Jogjakarta selama 57 detik mengubah mereka. Membuka mata, hati dan pikiran mereka. Memersatukan kembali persahabatan Nisa-Aisyah dan Nisa-Ayomi yang sempat renggang. menyadarkan Aji untuk kembali berjuang menjadi mahasiswa Kedokteran.

Di umurku yang mendekati kepala 3 ini membuat aku biasanya menghindari novel berlabel teenlit. Tapi selain karena tengah ikut tantangan membaca novel metropop, amore dan teenlit, tema yang ditawarkan novel ini berbeda membuat aku tertarik untuk membacanya. Berlatarkan gempa Jogja 8 tahun lalu, penulis kembali membawa ingatan aku ke masa itu. Siapa pun pastinya nggak pernah melupakan gempa 5,9 SR yang nyaris meluluh-lantakkan sebagian daerah di Jogja. Aku nggak berhenti merinding saat penulis mulai mendeskripsikan detik-detik terjadinya gempa dan keadaan serta kepanikan warga pasca gempa. Apalagi penulis juga menyisipkan beberapa foto pasca gempa dari koran harian Jogja.

Kelebihan novel ini adalah latar belakang yang diangkat penulis, yang membuat novel ini berbeda karena nggak mengangkat cinta monyet remaja dan aksi gencet-menggencet di sekolahan. Memakai multiple PoV, tapi diksinya enak dan mengalir, dan tidak berantakan. Ceritanya nyambung mulai dari PoV Nisa, Ayomi dan Aji. Dari novel ini juga kita diajarkan untuk bersyukur dengan segala yang sudah dimiliki, dan ikhlas dalam menghadapi cobaan apa pun dari Allah. Dan meski pun latar belakang ceritanya gempa Jogja, tapi nggak melulu isi novel ini kesedihan dan kesuraman. Sisi remaja Nisa, Ayomi dan Aji tetap ada di novel ini, dan beberapa kisah lucu pasca gempa.

Yang mengganggu aku hanya cara bicara Aji selama berkomunikasi dengan Ayomi dan Nisa. Menggunakan 'gue' dan 'kamu'. Jatuhnya nanggung dan aneh aja jadinya.

Tapi overall, aku merekomendasikan novel ini bukan cuma untuk kalangan remaja saja tapi juga kalangan dewasa. 3 of a 5 star.

Tantangan Membaca 2015 : Buku-Buku "karya" Dini Novita Sari

Diposting oleh Mellisa Assa di 1:22:00 PM 1 komentar Link ke posting ini


Yeeeayyy 2015 is comiiiiing. Biar udah tanggal 10, tapi tetep yah aku mau ngucapin Selamat Tahun Baru. Setiap tahun baru pasti kita pada bikin resolusi nih, entah itu baru atau mau melanjutkan resolusi yang tertunda di tahun sebelumnya. Tahun ini resolusi aku nggak muluk-muluk amat, takut nggak kesampaian. Aku cuma ingin agar semua 'Reading Challenge' yang aku ikuti tahun ini bisa capai target. Kalau melewati target alhamdulillah banget yah. Saat ini aku sudah mengikuti dua 'Reading Challenge', dan Tantangan Membaca 2015 : Buku-buku "karya" Dini Novita Sari akan menjadi yang ketiga yang akan aku ikuti. Tahun lalu aku hanya ikut yang di Goodreads, walau pun melewati target yaitu 56 dari 50 buku, tapi aku kurang puas. Semoga aja di tahun ini semangat membaca bisa 10 kali lipat dari tahun sebelumnya.

Daaaan kebetulan sekali, ada beberapa "karya" Dini yang ada di tumpukan aku dan akan aku ikutkan dalam tantangan membaca ini. Antara lain :
1. You Are The Apple Of My Eye.
2. The Last 2%
3. Moon In The Spring
4. Sweet home
5. Fangirl
6. Bonus Track
Iya, tahu, masih dikit. Dari 23 aku baru punya 6, tapi ada beberapa juga dari daftar "karya" Dini yang jadi wishlist aku tahun ini. Semoga bisa terbeli, lancar bikin review-nya, dan semoga bisa kepilih jadi salah satu pemenang. Dan buat Dini, semoga bisa menghasilkan "karya-karya" lainnya lagi yah? Hwaiting!

(Book's Review) Twivortiare 2

Diposting oleh Mellisa Assa di 12:58:00 PM 0 komentar Link ke posting ini


Judul : Twivortiare 2
Penulis : Ika Natassa
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Jumlah Halaman : 488 halaman
Genre : Metropop, Romance


BLURB :
"You know you're in love with the right person when falling in love with him turns you into the best version of yourself."
Setiap pasangan punya cerita masing-masing, kadang manis, kadang juga pahit. Enam tahun setelah Divortiare dan dua tahun setelah Twivortiare, Alexandra dan Beno kembali hadir melalui akun twitter @alexandrarheaw. Melalui buku ini, kita kembali diajak "mengintip" kehidupan mereka sehari-hari, pemikiran Alexandra yang witty dan selalu apa adanya, bahkan merasakan langsung interaksi antar karakter-karakter yang diceritakannya. Membaca Twivortiare 2 seperti mendengarkan sahabat sendiri bercerita tentang manis dan pahitnya hidup, tentang pilihan, kesalahan masa lalu, dan tentang makna sesungguhnya dari kesempatan kedua.
***
Yeeeaaay Alex and Beno are back. Masih dalam bentuk kumpulan twitter Alexandra, tapi bedanya ada sedikit narasi di novel kedua ini. Sebagai follower akun @alexandrarheaw yang lumayan baru, keluarnya novel ini membuatku excited karena jadi bisa mengikuti tweet-nya Alex dari tahun 2012. Dan memang benar, seperti tengah mendengarkan sahabat sendiri bercerita.

Di novel ini, Alex dan Beno sudah jarang berantem lagi. Malah kebanyakan dialog mereka berdua bikin ngakak. Dari novel ini bisa belajar kesabaran Alex dalam menghadapi Beno, yang masih aja tetap lempeng but romantic in his own way. 8 tahun yang membuahkan hasil karena Alex akhirnya paham cara menghadapi kelempengan suaminya. Positifnya, Alex selalu memuji Beno. Nggak heran kalau pada akhirnya dia dibikin pusing dengan tweet followers-nya yang pada mengidolakan Beno, sweet banget sih orangnya. Tipe talk less, more action. Dan mereka berdua masih diuji pula kesabarannya dalam menanti buah hati yang belum juga kunjung datang. Sedih tiap baca tweet Alex yang rada desperate karena belum juga hamil. Tapi dukungan dari Beno dan sahabatnya Wina, Alex bisa melalui semuanya. Hingga pada akhirnya saat Alex positif hamil, aku pun turut bahagia, seolah memang si Alex ini nyata.

Walau dari segi fisik digambarkan pasangan ini nyaris sempurna, tapi kehidupan mereka nggak muluk dan masih banyak kekurangannya. Beno pun tidak menganggap karir Alex bisa mengintimidasi dirinya sebagai kepala keluarga. Dan Alex juga tetap menomorsatukan keluarganya dibanding karir. Setiap kalimat yang keluar dari mulut Alex saat membicarakan Beno, menggambarkan betapa besar cinta Alex pada Beno. Hal yang patut dicontoh para pembaca yang sudah bersuami. Gambaran Alex mengenai rumah tangganya memengaruhi aku agar rumah tanggaku juga bisa seperti Alex dan Beno, yang belajar dari kegagalan pernikahan pertama mereka, dan meletakkan sabar diatas segalanya.

Isi tweet-nya nggak cuma melulu membahas rumah tangganya, tapi juga kejengkelan Alex terhadap kliennya Adrian yang masih juga berusaha flirting. Tweet-nya selama hamil juga rada bikin terharu, karena mewakili rasa syukur dan bahagianya dia. Nggak jarang juga Alex jadi konsultan cinta dadakan. Karena ada beberapa tweet-nya yang agak dewasa, jadi sebaiknya disarankan yang mau baca novel ini sudah 18 tahun ke atas yah? Kalau masih dibawah umur 18 terus ngebet baca, yah monggo di-skip tweet yang nggak sesuai umur :D
Tapi sumpah emang kebanyakan tweet Alex yang koplak gitu. Apalagi yang dibagian live tweet dari Wina pas acara tujuh bulanan, baby shower sama proses persalinan Alex, aku nggak bisa berhenti ngakak. Sekoplak-koplaknya Alex, lebih sinting Wina emang.

Beberapa tweet Alex ada yang quoteable dan aku favoritkan, dan ingin aku bagikan. Yaitu :
1. Good marriage is not destiny. You are never destined to be happy. You have to work and search for it and take care of it. (Halaman 113).
2. In the end, screw types. When you fall in love, you just do, even though he was never your type to begin with. (Halaman 119)
3. A great realtionship is not just when you can laugh together, but also laugh each other. (Halaman 147)
4. Love is a lot like Google. If you make your search too spesific, you'll never find what you're looking for. (Halaman 170)
5. Funny how some people just brought the evil in you, and some other brought the angel in you. (Halaman 171)
6.And I finally found home. I found home in his embrace. (Halaman 174)
7. He's like a security blanket who protects me from all the monsters in the world. (Halaman 174)
8. Gue jatuh cinta karena dipeluk, dia jatuh cinta karena belanja bulanan. Isn't love funny and unpredictable? (Halaman 175)
9. Do you realize that when you miss a person, it's not just him that you miss? It's the feeling you had when you were with them. (Halaman 182)
10. Life is almost perfect when the man that you want is the same person as the man that you need. (Halaman 186)
11. Life is never boring when everyday I have silly conversations with my husband that only us understand. (Halaman 226)
12. A little jealousy in relationship is healthy, don't you think? It's always nice to know that somebody is afraid to lose you. (Halaman 227)
13. Yang bisa kita lakukan cuma "memegang" kebahagiaan yang kita punya itu erat-erat dan meyakinkan diri bahwa tidak ada yang lebih penting daripada kebahagiaan itu sendiri. (Halaman 291)
14. Words can lie, but his hugs and kisses are always genuine. (Halaman 309)
15. When you're carrying the best part of your life inside of you, even the most awful day wouldn't matter. It's still the best part of your life. (Halaman 336)
16. Couples who only use their beds for sleeping and sex and cuddling are missing out on a perfect moment of intimacy : Pillow Talk. (Halaman 338)
17. Once you have a kid of your own, he or she becomes the center of your universe and you just can't help it. (Halaman 469)
18. You know the best thing about having a family? Fun is no longer out there, you don't have to drive somewhere for fun. (Halaman 470)
19. My happy ending is you both, Beno and Arga. You both. (Halaman 474)

Lewat novel ini seolah para pembaca diajak untuk ikutan sabar, menghargai suami, bagaimana berusaha menjadi istri dan ibu yang baik. Nggak berisi tweet sampah yang isinya hujatan mulu. Dan walau bentuknya tweet, tapi kayak baca narasi karena ceritanya yang nyambung. Bisa sekalian belajar bahasa Inggris juga karena kebanyakan tweet Alex full English.

Kalau aku pribadi ditanya kekurangan novel ini, mungkin aku akan menjawab nggak ada. Tapi kalau secara objektif, mungkin karena dalam bentuk kumpulan tweet, tidak akan cocok untuk setiap pembacanya. Dan kebanyakan tweet Alex yang full English bisa juga jadi salah satu kendala bagi pembaca yang tidak terlalu menguasai bahasa Inggris. Tapi kalau mencoba mengikuti tweet Alex dan berakting seolah kita sahabatnya sendiri yang tengah mendengarkan curhatannya, kita pasti bisa dapat feel-nya. Nggak memusingkan kok karena tweet satu dengan yang lainnya nyambung, nggak ada yang  missing  sampai pada akhir cerita.

I'll give 5 of a 5 star for this novel. Alex dan Beno bikin aku susah move on :)

9 Januari 2015

Resensi Novel Friends Don't Kiss by Syafrina Siregar

Diposting oleh Mellisa Assa di 11:06:00 AM 0 komentar Link ke posting ini

Judul Novel : Friends Don’t Kiss
Penulis : Syafrina Siregar
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama
Jumlah Halaman : 208 halaman
Harga : Rp. 46.000,-
Kategori : Fiksi, Metropop, Romance


Sinopsis :
“In case you forgot, Mia, friends don’t kiss.”
Bagi Mia Ramsy, menyusui adalah salah satu ekspresi cinta terbesar seorang ibu bagi anaknya. Tapi bagi Ryan Subagyo, setiap mendengar kata “menyusui”, yang muncul di benaknya hanyalah bayangan payudara wanita.
Namun, kegigihan Mia memperjuangkan hak setiap bayi untuk mendapatkan ASI eksklusif lewat Indonesia Braestfeeding Mothers –organisasi nirlaba tempat gadis itu mengabdi- justru semakin membuat Ryan jatuh cinta padanya.
Ryan semakin yakin Mia berbeda dari gadis-gadis yang selama ini ia temui. Kekayaan, kesuksesan, dan ketampanannya memang membuat Ryan dikejar banyak gadis, tetapi belum ada yang mampu menggetarkan hatinya. Hanya Mia yang mampu membuat Ryan untuk pertama kalinya memikirkan pernikahan.
Namun, apakah lamaran Ryan akan diterima jika gadis itu mengetahui siapa Ryan Subagyo sebenarnya?
***
Dari awal sudah tertarik dengan novel ini karena isu pentingnya ASI yang diangkat dibalik kisah romansa antara Ryan dan Mia. Tidak hanya menjual romansa, tapi penulis juga ‘ikut’ berkampanye soal pentingnya ASI untuk bayi. Di awal cerita, kita disuguhi info-info penting seputar ASI. Bagaimana cara agar ASI bisa keluar, dan beberapa istilah seperti Inisiasi Menyusui Dini (IMD) dan Perlekatan. Dua jempol juga untuk Mia yang meski pun memiliki bengkel besar warisan dari ayahnya, tapi memilih untuk menjadi sukarelawan di organisasi Indonesia Breastfeeding Mothers. Sekali pun tidak digaji, tapi Mia tulus menjalani tugasnya sebagai konselor laktasi, dan gigih berjuang agar para bayi mendapatkan hak ASI-nya.
Konfliknya pun menarik, karena Ryan dan Mia, dua pribadi yang berseberangan tapi saling jatuh cinta. Ryan yang seorang pemilik perusahaan susu formula Prima Gold, jatuh cinta kepada Mia. Meski pun dia tahu betapa kesalnya Mia pada perusahaannya yang beberapa kali melanggar Keputusan Menteri mengenai Pemasaran Pengganti Air Susu Ibu. Dari novel ini juga aku jadi tahu poin-poin penting dalam KepMen tersebut dan etika pemasaran susu formula yang dikeluarkan WHO pada tahun 1981.
Tokoh Ryan sendiri bikin klepek-klepek juga karena perhatiannya yang begitu besar pada Mia dan pilihan sulit yang diambilnya demi memilih Mia sebagai calon istrinya. Padahal sebelumnya, pernikahan tidak pernah ada dalam kamusnya.

‘Well marriage is a lifetime commitment, isn’t it? Unless he’s damn sure, he’s not going to do it.’ (Halaman 49)

Perlakuannya pada Mia, yang meski pun termasuk tindakan sederhana, tapi begitu manis. Bukan cuma Mia deh yang klepek-klepek, tapi aku juga ikutan klepek-klepek. Gimana nggak klepek-klepek kalau tiba-tiba dia sudah muncul di depan pintu apartemen dan bilang kalau dia mampir cuma untuk melihat Mia. Walau pun terkadang, Ryan bertindak seperti seorang stalker yang tiba-tiba saja sudah muncul di apartemen Mia, tapi sikap gentleman dia mampu menghapus rasa ngeri yang sempat timbul. Menambah nilai plus juga, walau berkali-kali Ryan mengatakan kalau Mia sudah membangkitkan nafsu primitif dalam dirinya, tapi Ryan tidak memperlakukan Mia dengan seenak nafsunya juga.

“Kamu sudah menghidupkan setiap kepekaan primitif dalam diriku. Sesuatu yang bahkan aku sendiri tidak bisa mengontrolnya.” Ryan (Halaman 88)

Selain isu pentingnya ASI dan sikap Ryan yang bikin meleleh, gaya bahasa penulis juga enak dan mengalir. Tidak berkesan kaku dan membosankan. Dialog antara Mia dan Ryan juga manis tapi tidak terkesan gombal, dan kadang sarkastis tapi terkesan lucu. Novel ini juga informatif membahas detil mengenai ASI, mulai dari kandungan dalam ASI yang menjadi modal kekebalan bagi bayi, fakta bahwa bayi menangis tidak selamanya karena masih merasa lapar dan info-info penting lain yang akan diketahui setelah membaca novel ini. Riset yang dilakukan penulis membuatku mengacungkan dua jempol.

Tapi membaca novel ini, nggak selamanya bikin senyum-senyum sendiri. Sikap Mia yang terkadang terlalu idealis membuatku selalu berdecak sebal. Sikap idealis Mia bukan hanya ketika berhadapan dengan Ryan saja, tapi saat dia tengah menjadi konselor laktasi. Mungkin karena semangatnya yang terlalu berapi-api, Mia malah terkesan menceramahi. Seolah-olah setiap ibu yang memberikan tambahan susu formula pada sang bayi itu berdosa. Tidak heran kalau dia harus menghadapi kekesalan adiknya, Lia, yang merasa kalau Mia hanya tahu teori. Dan idealisnya Mia itu juga seolah-olah menggambarkan kalau dirinya begitu memusuhi susu formula diseluruh dunia dan para penciptanya. Tapi pada akhirnya dengan kritikan dari Lia dan dorongan dari Gina, temannya, Mia jadi tahu bagian mana dari dirinya yang salah selama dia menjadi konselor laktasi.

“Idealisme lo nggak pernah ada yang konyol. Tapi bantu gue dengan berdiri disebelah gue, bukan di depan gue.” Lia (Halaman 135)

Aku sendiri merekomendasikan novel ini untuk dibaca semua kalangan. Walau pun sebenarnya ini novel romance, tapi bersifat informatif dan edukatif. Mungkin pembaca yang belum menikah akan merasa agak flat atau kurang dapat feel-nya di awal cerita karena memang pure membahas soal ASI. Ada beberapa kejanggalan juga sih, seperti si Lia yang sudah mampu menangis dan berteriak padahal dia baru saja menjalani operasi cesar. Itu kan sakit, ngomong aja masih harus pelan-pelan apalagi sudah berteriak. Yang janggal juga, perusahaan sekaliber Prima Gold yang masih melanggar kode etik pemasaran pengganti Air Susu Ibu apalagi sampai mengiklankan susu formula mereka untuk bayi dibawah satu tahun. Tapi yah namanya juga cerita fiksi, pasti ada kan yang mungkin bertentangan dengan kenyataan, tapi masih bisa diterima akal sehat. Yang jelas tidak ada something missing dalam novel ini yang membuat pembaca jadi bingung di bab-bab terakhir.
Walau pun ada beberapa kejanggalan, dan ending-nya terlalu mepet, tapi karena diksinya yang enak, isu pentingnya ASI yang diangkat dan membuat novel ini berbeda, semangat Mia menjadi konselor laktasi, dan Ryan yang dominan tapi sweet, membuatku tidak ragu memberikan 3 bintang.


3 of a 5 star for Friends Don’t Kiss. 
 

Mells Book's Shelves © 2010 Web Design by Ipietoon Blogger Template and Home Design and Decor